Infokumnews.com, 09/02/2026 KotaBekasi – Konsistensi dan kecintaan terhadap proses menjadi kunci perjalanan Calvin dalam menekuni dunia breeding ayam Pakhoy. Pria berusia 32 tahun ini membuktikan bahwa hobi yang dijalani sejak kecil, bila ditekuni dengan fokus dan kesabaran, mampu berkembang menjadi bidang yang bernilai.
Calvin mengungkapkan, ketertarikannya terhadap ayam Bangkok ( BK ) bermula sejak dirinya masih duduk di bangku taman kanak-kanak hingga sekolah dasar pada era 1990-an. Saat itu, ia kerap melihat pamannya memelihara ayam Bangkok.
“Awalnya itu dari keluarga. Om saya dulu suka ayam Bangkok. Saya masih TK, SD, sering lihat om bawa-bawa ayam. Posturnya gagah, keren, jadi saya tertarik. Dari situ saya senang lihat, lalu mulai pelihara,” ucap Calvin Senin (09/02/2026).
Kecintaan tersebut terus tumbuh hingga akhirnya Calvin mulai memelihara awal ayam Bangkok secara mandiri. Meski sempat berhenti ternak ayam saat menempuh pendidikan kuliah di Jakarta Barat, ketertarikan itu tidak pernah benar-benar hilang.
“dulu di Ambon saya pelihara ayam Bangkok, ya ternak sampai SMA.. Tapi karena saya harus kuliah, akhirnya berhenti dulu karena harus berangkat kuliah ke Jakarta Barat. Nah, setelah menyelesaikan kuliah di Jakarta Barat, terus kebetulan ada tanah kosong di dekat rumah, saya mulai pelihara lagi ayam Bangkok, Pakhoy jenis jenis ayam modern lalu diternak sampai sekarang” jelasnya.
Sejak awal, Calvin konsisten memilih jalur ayam teknik, khususnya ayam Bangkok teknik dan Pakhoy. Hingga kini, jenis ayam yang dikembangkan pun masih berada dalam satu garis tersebut.
“Dari awal sampai sekarang saya tetap di ayam Bangkok lalu saya fokus ke ayam Pakhoy istilahnya ayam trah impor lah,” tegasnya.
Saat ini, Calvin mengelola Harvest Farm, sebuah farm yang fokus pada breeding ayam Pakoy berbasis kualitas dan genetik. Jumlah ayam di kandangnya mencapai sekitar seratus ekor, dengan perputaran yang dinamis.
“Kurang lebih ada seratus ekor. Enggak banyak, karena pasti ayamnya keluar terus terjual ke pelanggan yang ada di sumatera, kalimantan, Jawa, Bali, NTT, NTB, Sulawesi, Maluku. Pengiriman sudah se Indonesia,” katanya.
Menurut Calvin perkembangan dunia ayam kontes khususnya jenis Pakoy saat ini menunjukkan peningkatan kualitas yang signifikan.
“Sekarang ayam kontes sudah upgrade, kualitasnya bagus-bagus. Tinggal kita yang harus lebih teliti melihat kualitasnya,” ujarnya.
Dalam proses breeding, Calvin menekankan pentingnya pemilihan bibit, terutama babon betina dan pejantan. Menurutnya, faktor fisik harus sejalan dengan kekuatan genetik.
“Untuk betina, pertama dilihat tulangnya, posturnya, badannya cenderung agak panjang. Istilah penghobi, mata ayamnya harus senter sejajar petok, kaki bulat kering. Tapi yang paling penting itu trahnya, genetiknya,” jelasnya.
Hal yang sama berlaku untuk ayam jantan. Calvin menyebut, ayam yang terlihat unggul secara fisik belum tentu mampu menurunkan kualitas yang sama kepada keturunannya.
“Jantan juga sama. Fisik dan genetik harus kuat. Karena ayam yang Paceknya bagus , belum tentu anaknya ngikut. Dunia ternak itu memang enggak gampang,” ungkapnya.
Calvin mengakui, meski telah kembali melanjutkan ternak sejak 2019, hasil breeding yang benar-benar sesuai dengan standar idealnya baru tercapai dalam tiga tahun terakhir.
“Yang benar-benar sesuai standar yang saya mau itu baru tiga tahun belakangan. Satu tetasan bisa jantan enam ekor, nah enam-enamnya bagus semua. Enggak ada yang melenceng,” paparnya.
Terkait penyelenggaraan kontes ayam, Calvin menyebut kawasan Sumarecon Kota Bekasi sebagai salah satu lokasi yang rutin menggelar kontes resmi.
“Kalau di Bekasi paling sering di daerah Sumarecon Kota Bekasi. Kontesnya sudah resmi,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa kontes ayam Pakhoy saat ini telah memiliki legalitas yang jelas.
“Sudah resmi, izin kepolisian ada. Sudah diakui dan masuk kategori olahraga dan Hoby kontes ayam tangkas” tegasnya.
Menutup, Calvin menyampaikan pesan inspiratif bagi masyarakat yang ingin menekuni dunia breeding ayam Pakhoy.
“Kalau sudah niat ternak ayam, jangan malas. Harus konsisten, fokus. Jangan kejar kandang bagus dulu, kejarlah kualitas ayamnya yang utama, setelah itu baru kandang yang nyaman untuk ayam” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memahami genetik sebelum membeli ayam.
“Harus ditelusuri trah ayam yang kita beli, bukan cuma ayam yang kita beli saja yang kita perhatikan kualitasnya, tapi harus juga saudara setetesannya, kakaknya, sepupunya. Kalau semuanya bagus dan mirip, maka genetik ayam kita beli ini pasti kuat untuk di ternak agar anak anaknya konsisten memiliki kualitas yang sama. ” Imbuhnya
Menurut Calvin, keberhasilan di dunia breeding tidak bisa diraih secara instan.
“Kalau sudah fokus di satu bidang, jalani terus. Konsisten. Dari situ hasilnya kelihatan,” tutupnya.
(Red)
